5 menit renungan

5 menit renungan

Rabu, 08 September 2010

MENYEMBUR-NYEMBURKAN KEBOHONGAN

..., orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa. Ams. 19:9.


Aesop:

Jauh di perdalaman Afrika, hiduplah sekelompok gajah yang hidup dalam kebersamaan. Mereka selalu mencari makan bersama dan menghabiskan waktunya bersama. Mereka pun sangat bersahabat dengan hewan-hewan lain sesama penghuni hutan.

Namun dari kelompok gajah tersebut, ada seekor gajah kecil yang suka berbohong dan menipu. Dia akan tertawa, apabila ada yang termakan oleh tipuannya. Seluruh hutan mengetahui sifatnya, namun mereka hanya kesal dan menahan kesabaran karena tipuannya.

"Akulah gajah terhebat dihutan ini, semua binatang telah termakan oleh tipuanku," sahut gajah dengan angkuhnya. "Kenapa engkau selalu suka berbohong, apakah kamu tidak takut seluruh hutan tidak akan percaya dengan kata-katamu nanti," nasehat gajah yang lebih tua kepadanya. "Tidak mungkin.....!" sahut gajah kecil sambil berlalu.

Siang harinya, gajah-gajah mencari makan bersama, sambil melintasi padang rumput yang luas, mereka berjalan berkelompok dan tidak ketinggalan si gajah kecil. Di dalam perjalanannya, karena kecerobohannya, gajah kecil terjerat oleh akar pohon. Dia berteriak minta tolong, namun
gajah-gajah yang lainnya hanya memandang dan berkata, "Sudah cukuplah kamu berbohongan, kita tidak akan percaya lagi padamu." Gajah-gajah berjalan meninggalkannya sendirian dengan kesakitan.

Akibat teriakannya, serigala-serigala lapar yang sedang mencari mangsanya, mendekati gajah kecil tersebut, yang telah ditinggali rombongannya sendiri, sambil mengigit si gajah kecil dan tewaslah gajah kecil dalam kebohongannya.


THINGS TO LEARN:

Aesop di atas sangat simple, namun ada pelajaran sangat penting agar kita tidak menyembur-nyemburkan kebohongan dan menjaga integritas kita. Pada ayat 1 pasal 19 dari Amsal mengatakan, bahwa lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya dari pada seorang yang serong bibirnya lagi bebal. Yang dimaksud serong bibirnya di sini adalah suka menipu, menyembur-nyemburkan kebohongan atau tidak ada integritas, jadi apa yang dibicarakan berbeda dengan isi hati dan kelakuannya. Jadi makna ayat ini adalah: seandainya orang itu miskin, tapi dia berintegritas, itu jauh lebih baik dari pada orang yang suka menyembur-nyemburkan kebohongan dan bebal/keras kepala.

Rasul Paulus mengingatkan kita sebagai orang Kristen dalam Kol. 3:9, "Jangan lagi saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya." Artinya: Jika kita telah bertobat menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, maka dusta/bohong bukanlah suatu sifat atau perbuatan yang TUHAN inginkan dari kita.

Lalu pertanyaannya: Bagaimana kita bisa menangkal sifat atau perbuatan dusta/bohong yang ada di dalam diri kita?

Jawabannya di ayat 10 dari Kol. 3, ".., dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." Jadi tidak ada kata lain untuk menangkal sifat dan perbuatan bohong yang ada di dalam diri kita adalah dengan cara: kita harus bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus yang penuh dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahhatian, kelembahlembutan dan kesabaran (ay. 12-14). Oleh karena itu, mari kita tidak perlu lagi menyembur-nyemburkan kebohongan, karena itu hanyalah sifat dan pekerjaannya si bapa pendusta - iblis (Yoh. 8:44).


WISDOM WORDS:

Pepatah Latin: "Intergritas adalah milik yang paling mulia."
C.S. Lewis: "Kebohongan kecil adalah sebuah kehamilan kecil - ia tidak bertahan lama sebelum setiap orang mengetahuinya."


johannes_djing Ministry


Sumber:
http://successandwisdom.blogspot.com/2007/11/kebohongan-sang-gajah-kecil.html
http://un2kmu.files.wordpress.com/2009/12/gajah-jawa.jpg%3Fw%3D500%26h%3D332&imgrefurl
http://peaceboyzs.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar